About this

Belajar dari yang tidak aku tau menjadi tau

Selasa, 22 Maret 2011

Mengobatai kanker serviks dengan IVA

Kanker serviks dapat dicegah dan diobati dengan metoda insveksi visual asetat (IVA) dan krioterapi. Kedua metoda ini masuk dalam kategori pencegahan sekunder, yakni usaha dengan melakukan skrining untuk menemukan kanker pada kondisi pra-kanker.
Metoda ini mewajibkan pasien untuk tidak berhubungan seksual selama sebulan. Karena itu, pasien yang hendak berobat tersebut harus mendapat izin dari suaminya. "Jangan sampai di tengah jalan, sebelum pengobatan tuntas, suaminya memaksa untuk berhubungan badan. Pengobatan jadi sia-sia," kata Kepala Dinas Kabupoaten Tabanan, dr Ketut Sumiarta MKes.
Di puskesmas yang menjadi salah satu puskesmas dengan sejumlah fasilitas rawat inap itu, penanganan pasien serviks dilakukan dengan metoda IVA dan krioterapi. Metoda itu bisa ditangani oleh dokter spesialis kandungan, dokter umum ataupun petugas medis.
IVA adalah suatu cara melakukan skrining kanker serviks yang dilakukan dengan melihat serviks (mulut/leher rahim) yang diolesi larutan asam asetat 3,5 persen pada permukaan serviks. Jika pada serviks yang dioleskan terjadi perubahan dari warna merah muda menjadi plak putih, maka hal tersebut menunjukkan ada kelainan/perubahan pada sel yang menutupi serviks.
Metoda IVA menjadi alternatif pemecahan kanker leher rahim di Indonesia karena mudah, murah, tidak invasif. Metoda ini dapat dikerjakan oleh semua tingkatan layanan kesehatan dan dapat dikerjakan oleh bidan maupun perawat.
Dengan metoda IVA, hasil pemeriksaan langsung diketahui dan pengobatan dapat dilakukan seketika saat pemeriksaan. "Metoda ini sangat murah sehingga sesuai dengan keadaan ekonomi masyarakat yang terbatas," kata Sumiarta.
Pengobatan metoda ini dilakukan tidak dalam kondisi sedang haid, mendapat dukungan suami dan bisa didapat di puskesmas, RS Bersalin serta bidan kebidanan RS.

repost:yahoonews

Sabtu, 12 Maret 2011

Beragam jawaban ketika ada pertanyaan "kapan kamu menikah?kok belum menikah juga?"

"Belum ketemu yang seiman. Kalau sudah seiman pun, belum tentu langsung cocok, kan?"
Jawaban ini akan membuat si penanya respek terhadap kondisi Anda bahwa menemukan pasangan yang seiman adalah prinsip Anda, dan ini jauh lebih elegan daripada menikahi siapa saja karena sudah didesak untuk menikah.

"Yah, gimana dong, dulu aku terlalu lama menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Sekarang, aku lagi sibuk-sibuknya. Tapi aku tetap mencari, kok!"
Jawaban ini menunjukkan bahwa Anda bersikap realistis dengan kondisi Anda. Anda terlihat percaya diri, tetapi tetap rendah hati. Setiap orang pernah berbuat kesalahan, dan Anda ingin memperbaikinya. Siapa tahu, akibatnya si penanya akan mengenalkan Anda kepada temannya.

"Kalau aku tahu jawabannya, mungkin aku sudah menikah sekarang",
jawaban yang lebih simple dan mengena

"Ah, senang juga kok, tetap melajang. Enggak ada yang melarang kalau mau keluar kota, dan enggak perlu kompromi soal apa pun."
Anda menunjukkan bahwa menjadi lajang tak selamanya merugikan atau memalukan. Namun, sampaikan jawaban itu dengan ekspresi yang meyakinkan. Bila tidak, Anda hanya akan dianggap menghibur diri atau bersikap defensif. Kalau Anda memang masih menikmati kehidupan lajang, kalimat ini menjadi cara yang baik untuk menjawab pertanyaan.

"Aku masih mencari pria beruntung yang akan mendapatkanku...."
Wow... great answer, great sense of humour! Berikan senyuman Anda yang paling menawan dan tunjukkan kepribadian Anda yang menyenangkan. Jawaban ini juga membuat si penanya sadar bahwa perempuan tetap harus mencari pria yang baik dan dapat diandalkan karena Anda pun punya kualitas yang sama. Hanya karena masih lajang, tak berarti Anda desperate.

"Aduh, belum ketemu Mr Right, nih! Cariin, dong!"
Nah, ini jawaban yang akan menguntungkan Anda. Bila Anda memang cukup sibuk sehingga tak terlalu sering meluangkan waktu senggang bersama teman-teman, si penanya akan merasa tergerak untuk mengenalkan Anda dengan teman-temannya. Bahkan, Anda mungkin bisa mendapat kenalan lebih dari satu. Asyik, kan?

"Ya, jelas harus pilih-pilih dong! Kalau tiba-tiba dia ternyata perampok bank, gimana?"
Ini juga jawaban yang asyik karena Anda menanggapi tuduhan "pilih-pilih" tadi dengan humor. Percayalah, sebagai perempuan Anda memang harus memilih pria yang mampu mendampingi Anda seumur hidup. Dan ini tak mungkin dicapai bila Anda tergesa-gesa memutuskan pria yang ingin Anda nikahi. Tentu, pilih-pilih yang dimaksud bukan "pilih yang ganteng, jangkung, kaya, atau terkenal".

sumber:kompas female